Pengembangan produk skincare merupakan proses mengubah sebuah ide menjadi produk perawatan kulit yang siap diproduksi dan dipasarkan. Proses ini tidak berhenti pada pemilihan bahan aktif. Brand juga perlu menentukan target konsumen, merancang formula, membuat sample, mengevaluasi produk, memilih packaging, mempersiapkan legalitas, hingga masuk ke tahap produksi.
Bagi brand owner, memahami setiap tahapan tersebut membantu membuat proses pengembangan lebih terarah. Selain itu, perencanaan yang jelas dapat mengurangi perubahan konsep di tengah proses serta membantu menyelaraskan formula, kemasan, positioning, dan strategi bisnis.
Sebagai contoh, ide sederhana seperti “ingin membuat brightening serum” masih terlalu luas. Brand perlu menentukan siapa target konsumennya, seperti apa karakter produknya, bagaimana positioning-nya, serta pengalaman seperti apa yang ingin diberikan kepada pengguna.
Lalu, bagaimana proses pengembangan skincare dari sebuah ide hingga siap diproduksi?
Apa Itu Pengembangan Produk Skincare?
Pengembangan produk skincare adalah rangkaian kegiatan untuk merancang dan mengembangkan produk perawatan kulit berdasarkan konsep, fungsi, target konsumen, serta kebutuhan bisnis sebuah brand.
Secara umum, proses tersebut dapat mencakup:
- Penyusunan ide dan product brief
- Penentuan karakteristik produk
- Pengembangan formula
- Pembuatan dan evaluasi sample
- Finalisasi formula dan packaging
- Persiapan legalitas
- Produksi dan quality control
Dengan demikian, formula hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses.
Brand juga perlu memastikan bahwa produk, harga, packaging, positioning, target pasar, dan strategi pemasaran memiliki arah yang saling mendukung.
Mengapa Pengembangan Produk Skincare Perlu Direncanakan?
Persaingan industri kecantikan membuat brand tidak cukup hanya meluncurkan produk yang mengikuti tren.
Produk perlu memiliki alasan yang jelas untuk hadir di pasar.
Misalnya, dua brand sama-sama ingin membuat moisturizer. Brand pertama menargetkan konsumen muda yang mencari produk ringan untuk penggunaan sehari-hari. Sementara itu, brand kedua ingin membangun lini premium dengan tekstur cream yang lebih rich.
Walaupun kategori produknya sama, keduanya dapat membutuhkan pendekatan formula, packaging, positioning, harga, dan komunikasi pemasaran yang berbeda.
Oleh karena itu, proses pengembangan produk skincare sebaiknya dimulai dari kebutuhan konsumen dan strategi produk, bukan hanya dari daftar bahan yang sedang populer.
7 Tahap Pengembangan Produk Skincare
Setiap produk dapat memiliki kebutuhan pengembangan yang berbeda. Namun, tujuh tahap berikut memberikan gambaran mengenai perjalanan produk dari konsep awal hingga menuju produksi.
1. Menentukan Ide dan Konsep Produk Skincare
Tahap pertama pengembangan produk skincare adalah menentukan produk apa yang ingin dibuat dan siapa calon konsumennya.
Brand dapat memulainya dengan membuat product brief sederhana.
Sebagai contoh:
Produk: Brightening Serum
Target: Usia 20–35 tahun
Positioning: Daily skincare
Karakter: Ringan dan nyaman digunakan
Packaging: Botol serum minimalis
Segmen harga: Menengah
Channel penjualan: Marketplace dan social commerce
Brief tersebut memberikan arah yang lebih jelas kepada tim pengembangan.
Sebaliknya, brief seperti “saya ingin membuat serum yang bagus dan viral” masih terlalu luas untuk diterjemahkan menjadi spesifikasi produk.
Karena itu, semakin jelas konsep awalnya, semakin terarah proses berikutnya.
2. Menentukan Karakteristik Produk
Setelah konsep terbentuk, brand dapat menentukan karakteristik produk secara lebih spesifik.
Beberapa aspek yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Bentuk sediaan
- Tekstur
- Warna
- Aroma
- Sensasi ketika diaplikasikan
- Fungsi produk
- Target pengguna
- Konsep packaging
Sebagai contoh, moisturizer dapat hadir dalam bentuk gel, lotion, atau cream. Masing-masing memiliki karakteristik dan pengalaman penggunaan yang berbeda.
Keputusan tersebut kemudian menjadi referensi ketika tim mulai mengembangkan formula.
Pada tahap ini, brand juga sebaiknya tetap terbuka terhadap pertimbangan teknis. Tidak semua konsep dapat diterapkan persis seperti produk referensi karena formula perlu mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan regulasi.
3. Pengembangan Formula Skincare
Tahap berikutnya adalah pengembangan formula skincare.
Tim formulasi menerjemahkan product brief menjadi formula awal dengan mempertimbangkan fungsi produk, karakter bahan, kompatibilitas, tekstur, stabilitas, dan pengalaman penggunaan.
Misalnya, sebuah brand ingin membuat serum yang ringan dan nyaman digunakan pada pagi hari. Tim pengembangan kemudian perlu merancang formula dengan karakter yang mendukung tujuan tersebut.
Sementara itu, produk night cream premium mungkin membutuhkan pendekatan berbeda karena brand menginginkan tekstur dan sensasi penggunaan yang lebih rich.
Dengan demikian, pengembangan produk skincare tidak menggunakan pendekatan one formula fits all. Formula perlu mengikuti konsep produk, target konsumen, positioning, dan kebutuhan yang ingin dicapai.
Inilah alasan mengapa product brief menjadi fondasi penting sebelum brand masuk terlalu jauh ke tahap formulasi.
4. Pembuatan dan Evaluasi Sample Skincare
Setelah formula awal tersedia, tahap berikutnya adalah pembuatan sample.
Sample membantu brand melihat dan mengevaluasi produk sebelum masuk ke tahap berikutnya.
Brand dapat memeriksa beberapa aspek seperti:
- Tekstur
- Warna
- Aroma
- Kekentalan
- Kemudahan aplikasi
- Sensasi penggunaan
- Kesesuaian dengan konsep awal
Sebagai contoh, brand meminta serum dengan tekstur ringan. Namun, setelah mencoba sample pertama, teksturnya terasa terlalu kental.
Brand kemudian dapat memberikan feedback kepada tim pengembangan.
Alurnya dapat berupa:
Sample pertama → Evaluasi → Feedback → Penyesuaian → Sample berikutnya
Proses tersebut membantu menyelaraskan hasil pengembangan dengan konsep produk.
Namun, brand sebaiknya menghindari perubahan konsep yang terlalu besar setelah proses berjalan. Perubahan dari serum ringan menjadi cream, misalnya, bukan lagi sekadar revisi kecil.
Oleh sebab itu, product brief yang jelas sejak awal dapat membantu membuat proses sample lebih efektif.
5. Finalisasi Formula dan Packaging
Setelah brand menyetujui karakter produk, proses dapat berlanjut menuju finalisasi.
Pada tahap ini, brand juga perlu memastikan packaging sesuai dengan karakter formula dan positioning produk.
Packaging memiliki setidaknya dua fungsi penting.
Pertama, kemasan menjadi bagian dari identitas dan pengalaman konsumen. Kedua, kemasan perlu sesuai dengan karakter produk yang akan dikemas.
Misalnya, pilihan antara jar, tube, pump bottle, dropper bottle, atau airless pump dapat memberikan pengalaman penggunaan yang berbeda.
Karena itu, jangan memilih packaging hanya berdasarkan tampilannya di media sosial.
Pertimbangkan juga fungsi, karakter formula, positioning, kebutuhan informasi label, serta aspek teknis lainnya.
Brand owner yang ingin melihat dukungan pengembangan produk secara lebih luas dapat mempelajari layanan maklon kosmetik PT Anugerah Malik Jabbar.
6. Persiapan Legalitas Produk Skincare
Legalitas merupakan bagian penting dalam pengembangan produk skincare, khususnya sebelum kosmetik diedarkan kepada konsumen.
Di Indonesia, kosmetik yang akan diedarkan harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk ketentuan mengenai notifikasi kosmetik. Karena itu, brand sebaiknya tidak menempatkan legalitas sebagai urusan yang baru dipikirkan setelah seluruh produk selesai.
Formula, klaim, informasi produk, dokumen, serta kemasan dapat berkaitan dengan persyaratan regulasi.
Brand owner yang ingin memahami tahap tersebut dapat membaca panduan Cara Mendaftarkan Brand Skincare ke BPOM: 7 Panduan Mudah.
Selain itu, pelaku usaha dapat memeriksa informasi dan ketentuan terbaru melalui Direktorat Pengawasan Kosmetik BPOM serta JDIH BPOM sebagai sumber regulasi resmi.
Dengan mempertimbangkan aspek regulasi sejak awal, brand dapat mengurangi risiko munculnya perubahan besar ketika produk sudah berada pada tahap akhir pengembangan.
7. Produksi Skincare dan Quality Control
Setelah formula, sample, packaging, dan berbagai persyaratan terkait telah siap, produk dapat bergerak menuju tahap produksi sesuai prosedur yang berlaku.
Pada tahap ini, produsen perlu menjaga konsistensi produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan.
Karena itu, quality control menjadi bagian penting dalam proses produksi.
Dalam industri kosmetik Indonesia terdapat standar Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) yang berkaitan dengan kegiatan pembuatan kosmetik dan pemenuhan persyaratan mutu.
Dengan demikian, pemilihan partner manufaktur tidak sebaiknya hanya berdasarkan kemampuan membuat sample.
Brand juga perlu mempertimbangkan kesiapan fasilitas, sistem mutu, legalitas, kemampuan produksi, serta dukungan yang tersedia selama proses pengembangan produk.
Alur Pengembangan Produk Skincare dari Ide hingga Produksi
Secara sederhana, keseluruhan proses dapat digambarkan sebagai berikut:
IDE → PRODUCT BRIEF → FORMULASI → SAMPLE → EVALUASI → FINALISASI → LEGALITAS → PRODUKSI → QUALITY CONTROL
Sebagai contoh, sebuah brand ingin meluncurkan brightening serum.
Ide: Brightening serum
Target: Konsumen usia 20–35 tahun
Positioning: Daily skincare
Formula: Serum dengan karakter ringan
Sample: Evaluasi tekstur, aroma, warna, dan penggunaan
Revisi: Penyesuaian berdasarkan evaluasi
Packaging: Botol sesuai positioning brand
Legalitas: Persiapan kebutuhan terkait notifikasi kosmetik
Produksi: Produksi berdasarkan spesifikasi yang disepakati
Quality Control: Pemeriksaan sesuai prosedur
Contoh tersebut menunjukkan bahwa sebuah produk tidak lahir hanya dari formula.
Sebaliknya, formula, konsumen, positioning, packaging, regulasi, dan produksi perlu saling mendukung.
Berapa Lama Pengembangan Produk Skincare?
Tidak ada satu durasi yang berlaku untuk seluruh produk.
Waktu pengembangan produk skincare dapat dipengaruhi oleh kompleksitas formula, jumlah revisi sample, kesiapan packaging, dokumen, proses legalitas, antrean produksi, serta kebutuhan khusus lainnya.
Produk yang memiliki brief jelas sejak awal biasanya lebih mudah diarahkan dibandingkan produk yang konsepnya terus berubah.
Karena itu, daripada hanya bertanya “berapa cepat produk bisa jadi?”, brand owner sebaiknya memastikan bahwa keputusan penting dapat dibuat secara efektif pada setiap tahap.
Kecepatan memang penting. Namun, kesiapan produk untuk memasuki pasar juga perlu menjadi prioritas.
Kesalahan dalam Pengembangan Produk Skincare yang Perlu Dihindari
Salah satu kesalahan paling umum adalah memulai pengembangan tanpa target konsumen yang jelas.
Brand terkadang terlalu fokus pada bahan yang sedang viral. Padahal, konsumen membeli keseluruhan pengalaman produk, bukan hanya satu ingredient.
Selain itu, terlalu sering mengubah konsep dapat memperpanjang proses formulasi dan sample.
Kesalahan berikutnya adalah memilih packaging hanya karena desainnya menarik. Padahal, brand juga perlu mempertimbangkan karakter formula dan aspek teknis.
Kemudian, jangan mengabaikan aspek regulasi. Klaim kosmetik, label, formula, dan dokumen perlu mengikuti ketentuan yang relevan.
Terakhir, hindari membuat terlalu banyak SKU pada peluncuran pertama tanpa strategi yang jelas. Dalam beberapa kasus, fokus pada beberapa produk dengan positioning yang kuat dapat membuat strategi pemasaran dan pengembangan bisnis lebih terarah.
Mengembangkan Produk Sendiri atau Menggunakan Jasa Maklon?
Brand tidak selalu harus membangun fasilitas produksi sendiri untuk mengembangkan produk kosmetik.
Sistem contract manufacturing atau maklon memungkinkan brand bekerja sama dengan perusahaan manufaktur untuk menjalankan proses pengembangan dan produksi sesuai ruang lingkup kerja sama serta ketentuan yang berlaku.
Model tersebut memungkinkan brand untuk lebih fokus pada aspek bisnis lain, seperti:
- Branding
- Positioning
- Distribusi
- Pemasaran
- Customer acquisition
- Pengembangan bisnis
Namun, pemilihan partner tetap perlu dilakukan secara cermat.
Brand dapat mempertimbangkan pengalaman, fasilitas, proses pengembangan, sistem mutu, komunikasi, kemampuan produksi, serta dukungan layanan yang tersedia.
Anda dapat mengenal lebih jauh PT Anugerah Malik Jabbar sebagai perusahaan maklon kosmetik Indonesia untuk memahami layanan dan pendekatan perusahaan dalam mendukung pengembangan produk kosmetik.
Tips Memulai Pengembangan Produk Skincare untuk Brand Baru
Jika baru memulai, jangan langsung memikirkan terlalu banyak produk sekaligus.
Mulailah dengan menjawab beberapa pertanyaan penting.
Siapa konsumen Anda?
Tentukan profil pengguna yang ingin dituju.
Masalah apa yang ingin dijawab produk?
Tentukan fungsi dan alasan produk hadir di pasar.
Apa yang membedakan produk Anda?
Bangun positioning yang dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada konsumen.
Seperti apa pengalaman produknya?
Tentukan karakter formula, tekstur, aroma, dan packaging.
Berapa target harga jual?
Target harga dapat membantu menentukan arah produk dan positioning.
Di mana produk akan dijual?
Marketplace, social commerce, klinik, distributor, retail, dan channel lainnya dapat membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Setelah itu, susun informasi tersebut menjadi product brief sebelum berdiskusi dengan tim formulasi atau manufaktur.
Pendekatan tersebut membuat proses pengembangan produk skincare lebih terarah karena keputusan teknis dapat mengacu pada tujuan bisnis yang jelas.
Mengapa Memilih Partner Pengembangan Produk yang Tepat?
Partner manufaktur memiliki peran penting karena pengembangan produk melibatkan lebih dari sekadar proses produksi.
Brand membutuhkan komunikasi yang baik sejak tahap konsep, formulasi, sample, hingga persiapan produksi.
Selain itu, kemampuan untuk menghubungkan kebutuhan brand dengan pertimbangan teknis dapat membantu proses pengembangan berjalan lebih terarah.
PT Anugerah Malik Jabbar menyediakan berbagai layanan untuk membantu brand dalam pengembangan dan produksi kosmetik. Sebelum memulai kerja sama, Anda dapat mempelajari profil dan keunggulan PT Anugerah Malik Jabbar serta layanan maklon kosmetik yang tersedia.
Dengan begitu, brand dapat menentukan kebutuhan pengembangan yang paling sesuai dengan konsep produk dan rencana bisnisnya.
FAQ tentang Pengembangan Produk Skincare
Apa itu pengembangan produk skincare?
Pengembangan produk skincare adalah proses mengubah konsep menjadi produk perawatan kulit yang siap menuju tahap produksi dan pemasaran. Prosesnya dapat mencakup product brief, formulasi, sample, evaluasi, packaging, legalitas, produksi, dan quality control.
Apa tahap pertama dalam pengembangan produk skincare?
Tahap pertama adalah menentukan ide, target konsumen, fungsi produk, positioning, karakter produk, dan target harga. Informasi tersebut kemudian dapat disusun menjadi product brief sebagai dasar pengembangan.
Apakah formula skincare dapat disesuaikan dengan konsep brand?
Formula dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan konsep produk, fungsi, karakteristik yang diinginkan, target konsumen, serta positioning brand. Namun, pengembangannya tetap perlu mempertimbangkan aspek teknis dan regulasi.
Apakah perlu membuat sample sebelum produksi skincare?
Sample membantu brand mengevaluasi karakteristik produk sebelum masuk ke tahap berikutnya. Brand dapat mengevaluasi tekstur, aroma, warna, kekentalan, serta pengalaman penggunaan sebelum melanjutkan proses.
Apakah produk skincare perlu mendapatkan notifikasi BPOM?
Kosmetik yang akan diedarkan di Indonesia perlu memenuhi ketentuan notifikasi kosmetik yang berlaku. Untuk memastikan persyaratan terbaru, brand dapat memeriksa informasi resmi melalui Direktorat Pengawasan Kosmetik BPOM.
Apakah brand skincare harus memiliki pabrik sendiri?
Tidak selalu. Brand dapat menggunakan model kontrak produksi atau maklon dengan industri kosmetik yang memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.
Berapa lama proses pengembangan produk skincare?
Durasi dapat berbeda untuk setiap produk. Kompleksitas formula, jumlah revisi sample, packaging, legalitas, kesiapan dokumen, dan jadwal produksi dapat memengaruhi keseluruhan waktu pengembangan.
Bagaimana cara memulai pengembangan produk skincare?
Mulailah dengan membuat product brief yang berisi jenis produk, target konsumen, fungsi, positioning, karakter formula, referensi produk, packaging, target harga, dan rencana pemasaran. Setelah itu, konsultasikan kebutuhan tersebut dengan tim pengembangan.
Kesimpulan: Pengembangan Produk Skincare Membutuhkan Strategi yang Jelas
Pengembangan produk skincare membutuhkan lebih dari sekadar formula yang menarik. Brand perlu menghubungkan ide, konsumen, formulasi, sample, packaging, legalitas, produksi, quality control, dan positioning menjadi satu strategi produk.
Product brief yang jelas sejak awal membantu memberikan arah pada proses pengembangan. Selanjutnya, sample memberikan kesempatan kepada brand untuk mengevaluasi karakter produk sebelum bergerak menuju tahap berikutnya.
Pada akhirnya, produk skincare yang kuat bukan hanya produk dengan bahan yang sedang populer. Produk juga perlu memiliki fungsi yang jelas, karakter yang konsisten, positioning yang tepat, serta proses pengembangan yang terencana.
Bagi brand owner yang ingin mengembangkan produk tanpa membangun fasilitas manufaktur sendiri, bekerja sama dengan perusahaan maklon dapat menjadi salah satu pilihan.
Punya konsep skincare yang ingin dikembangkan? Anda dapat menghubungi tim PT Anugerah Malik Jabbar untuk mendiskusikan ide, formula, sample, packaging, hingga kebutuhan produksi brand Anda.