Bahan Aktif Skincare untuk Formulasi Produk Kosmetik

Memilih bahan aktif skincare merupakan salah satu tahap penting ketika sebuah brand mulai mengembangkan produk perawatan kulit. Kandungan yang dipilih dapat memengaruhi konsep formula, positioning, target konsumen, karakter produk, hingga komunikasi pemasaran.

Niacinamide, hyaluronic acid, ceramide, vitamin C, salicylic acid, peptide, dan berbagai botanical extract merupakan beberapa contoh kandungan yang sering digunakan dalam pengembangan produk skincare. Namun, popularitas suatu bahan tidak otomatis membuatnya cocok untuk setiap produk.

Brand perlu melihat tujuan produk secara menyeluruh.

Apakah produk ingin difokuskan untuk hidrasi? Apakah target konsumennya memiliki kulit berminyak? Apakah brand ingin mengembangkan produk untuk membantu merawat skin barrier? Atau produk tersebut akan diposisikan sebagai premium anti-aging skincare?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membantu tim pengembangan menentukan pendekatan formula yang lebih relevan, termasuk menentukan bahan aktif skincare yang sesuai dengan konsep produk.

Karena itu, memilih bahan aktif skincare sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan:

“Bahan apa yang sedang viral?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Bahan dan formula seperti apa yang sesuai dengan fungsi produk, target konsumen, positioning brand, dan ketentuan kosmetik yang berlaku?”

Artikel ini membahas cara memilih bahan aktif skincare untuk pengembangan produk, contoh kandungan yang umum digunakan, hingga faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum memasuki tahap formulasi dan produksi.

Apa Itu Bahan Aktif Skincare?

Secara praktis dalam pengembangan produk, istilah bahan aktif skincare sering digunakan untuk menyebut kandungan yang dipilih karena memiliki fungsi tertentu dalam konsep formula dan menjadi bagian penting dari positioning produk.

Misalnya, suatu brand ingin membuat serum dengan konsep hydrating.

Tim pengembangan mungkin mempertimbangkan bahan yang mendukung konsep hidrasi dan mengombinasikannya dengan komponen formula lain untuk menghasilkan karakter produk yang diinginkan.

Namun, produk kosmetik bukan hanya kumpulan bahan aktif.

Sebuah formula dapat terdiri dari berbagai komponen, seperti:

  • Humectant

  • Emollient

  • Emulsifier

  • Thickener

  • Preservative

  • Solvent

  • Chelating agent

  • Antioxidant

  • Fragrance

  • Botanical extract

  • Bahan pendukung lainnya

Setiap komponen memiliki peran dalam keseluruhan formula.

Oleh karena itu, brand owner sebaiknya tidak melihat kualitas skincare hanya berdasarkan jumlah bahan aktif skincare yang dicantumkan pada materi pemasaran.

Formula secara keseluruhan tetap menjadi hal yang penting.

Di Indonesia, penggunaan bahan kosmetik perlu mengikuti persyaratan teknis yang berlaku. Saat ini, PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 mengatur Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik dan berstatus berlaku.

PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik

Mengapa Pemilihan Bahan Aktif Skincare Penting?

Bagi calon brand owner, bahan aktif skincare bukan hanya persoalan formulasi.

Pemilihannya dapat berhubungan langsung dengan strategi bisnis. Kandungan yang dipilih perlu memiliki alasan yang jelas berdasarkan fungsi produk, target konsumen, karakter formula, dan positioning brand.

Setidaknya terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

1. Menentukan Konsep Produk

Kandungan perlu mendukung konsep utama yang ingin dibangun.

Sebagai contoh, konsep hydrating serum tentu membutuhkan pendekatan formula yang berbeda dari exfoliating toner atau moisturizer yang difokuskan untuk membantu menjaga skin barrier.

Karena itu, bahan aktif skincare sebaiknya dipilih setelah fungsi utama produk ditentukan.

2. Membantu Menentukan Target Konsumen

Produk untuk remaja dapat memiliki kebutuhan berbeda dari produk yang ditujukan untuk konsumen dewasa.

Begitu pula produk untuk kulit berminyak, kulit kering, atau kebutuhan perawatan lainnya.

Karakter target konsumen dapat membantu tim menentukan jenis kandungan dan pengalaman penggunaan yang ingin dikembangkan.

3. Mendukung Positioning Brand

Bahan dan teknologi formula dapat menjadi salah satu bagian dari positioning.

Brand mass market, masstige, dan premium dapat mengambil pendekatan berbeda terhadap kompleksitas formula, kemasan, pengalaman penggunaan, dan harga.

4. Memengaruhi Karakter Formula

Pemilihan bahan dapat memengaruhi tekstur, warna, aroma, stabilitas, sensasi penggunaan, dan karakteristik produk lainnya.

Artinya, keputusan mengenai bahan aktif skincare juga perlu dipertimbangkan bersama komponen formula lainnya.

5. Berkaitan dengan Komunikasi Produk

Brand biasanya ingin menjelaskan alasan konsumen menggunakan produknya.

Namun, komunikasi manfaat tetap perlu menyesuaikan karakter kosmetik dan ketentuan klaim yang berlaku.

ASEAN Cosmetic Directive mencakup ketentuan mengenai ingredients, labeling, product claims, product information, dan aspek keamanan kosmetik.

ASEAN Cosmetic Directive

10 Bahan Aktif Skincare yang Sering Dipertimbangkan dalam Pengembangan Produk

Tidak ada satu bahan yang selalu paling baik untuk semua produk.

Berikut beberapa kandungan yang sering muncul ketika brand dan tim formulasi membahas bahan aktif skincare untuk pengembangan produk.

1. Niacinamide

Niacinamide merupakan bentuk vitamin B3 yang sangat populer dalam industri skincare.

Kandungan ini sering ditemukan pada:

  • Serum

  • Moisturizer

  • Toner

  • Essence

  • Facial care products

Dari sisi pengembangan brand, niacinamide menarik karena konsumen sudah cukup familiar dengan namanya.

Namun, jangan menentukan formula hanya karena:

“Kompetitor menggunakan niacinamide 10%, berarti produk kita harus lebih tinggi.”

Konsentrasi yang lebih tinggi tidak otomatis membuat produk lebih baik.

Tim formulasi perlu mempertimbangkan keseluruhan formula, karakter produk, tujuan penggunaan, kompatibilitas bahan, dan ketentuan yang berlaku.

2. Hyaluronic Acid

Hyaluronic acid sangat identik dengan konsep hydrating skincare.

Brand sering mempertimbangkannya untuk produk seperti:

  • Hydrating serum

  • Moisturizer

  • Essence

  • Eye care

  • Facial mask

Kandungan ini dapat menjadi bagian dari konsep produk yang menekankan hidrasi dan pengalaman penggunaan.

Namun, formula hydrating yang baik tidak harus bergantung pada satu bahan saja.

Tim R&D dapat mengembangkan sistem formula dengan beberapa komponen yang bekerja bersama untuk menghasilkan karakter produk yang diinginkan.

3. Ceramide

Ceramide banyak ditemukan pada produk dengan positioning skin barrier care.

Kategori produknya dapat berupa:

  • Moisturizer

  • Cream

  • Lotion

  • Serum

  • Barrier care products

Dari perspektif brand, ceramide dapat menjadi menarik jika target konsumen memiliki perhatian terhadap kelembapan dan kondisi skin barrier.

Namun, keberadaan nama “ceramide” pada daftar bahan saja belum cukup untuk menilai kualitas produk.

Formulator tetap perlu melihat keseluruhan sistem formula dan tujuan penggunaan bahan aktif skincare tersebut.

4. Vitamin C

Vitamin C merupakan salah satu kandungan yang sangat dikenal konsumen skincare.

Brand sering mengaitkannya dengan konsep brightening dan antioxidant skincare.

Produk yang dapat menggunakan konsep vitamin C antara lain:

  • Serum

  • Essence

  • Moisturizer

  • Eye care

  • Facial treatment

Namun, vitamin C bukan satu jenis bahan tunggal dalam praktik formulasi. Terdapat berbagai bentuk atau derivative yang dapat memiliki karakteristik berbeda.

Tim formulasi perlu menentukan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan formula.

5. Salicylic Acid

Salicylic acid sering ditemukan pada produk yang ditujukan untuk konsumen dengan perhatian terhadap minyak berlebih atau pori dan kondisi kulit tertentu dalam ruang lingkup kosmetik.

Produk yang sering menggunakan konsep ini antara lain:

  • Facial cleanser

  • Toner

  • Serum

  • Exfoliating products

Namun, penggunaannya tidak dapat ditentukan sembarangan.

Kadar, jenis produk, cara penggunaan, target konsumen, kombinasi formula, serta persyaratan teknis bahan kosmetik perlu menjadi pertimbangan.

Inilah salah satu alasan mengapa brand sebaiknya bekerja bersama formulator daripada menentukan persentase bahan hanya berdasarkan tren media sosial.

6. Alpha Hydroxy Acids (AHA)

AHA mencakup beberapa bahan yang digunakan dalam konsep exfoliating skincare.

Contohnya dapat mencakup glycolic acid dan lactic acid.

Produk dengan konsep AHA membutuhkan perencanaan formula yang matang karena formulator perlu mempertimbangkan banyak faktor, termasuk jenis produk, konsentrasi, pH, kombinasi bahan, cara penggunaan, dan regulasi.

Karena itu, jangan membuat product brief hanya berbunyi:

“Saya ingin AHA yang tinggi supaya lebih powerful.”

Sampaikan tujuan produk terlebih dahulu.

Tim formulasi kemudian dapat menentukan pendekatan yang lebih sesuai.

7. Peptide

Peptide banyak muncul pada produk dengan positioning premium, skin conditioning, atau mature skincare.

Kandungan ini dapat ditemukan dalam:

  • Serum

  • Eye serum

  • Eye cream

  • Moisturizer

  • Premium skincare

Bagi brand, peptide dapat mendukung konsep produk yang lebih sophisticated.

Namun, penambahan peptide tetap harus memiliki alasan formulasi dan komersial yang jelas.

Jika bahan membuat biaya formula meningkat tetapi tidak sesuai target harga konsumen, produk dapat menjadi sulit diposisikan.

8. Centella Asiatica

Centella asiatica atau cica sangat familiar dalam industri skincare modern.

Brand sering menggunakannya dalam konsep produk yang menekankan soothing atau perawatan kulit sehari-hari.

Kandungan ini dapat ditemukan pada:

  • Toner

  • Serum

  • Moisturizer

  • Facial mask

  • Gel

Botanical ingredients seperti Centella juga perlu diidentifikasi secara tepat pada ingredient listing. ASEAN Cosmetic Labeling Requirements, misalnya, mengatur penggunaan nomenklatur ingredient dan identifikasi botanical berdasarkan genus dan species.

9. Panthenol

Panthenol sering dipertimbangkan dalam formula yang berfokus pada conditioning, moisturizing, dan kenyamanan penggunaan.

Kandungan ini cukup fleksibel untuk berbagai produk, termasuk:

  • Serum

  • Moisturizer

  • Toner

  • Lotion

  • After-treatment skincare

Panthenol juga dapat dipadukan dengan konsep barrier care bersama bahan lain sesuai kebutuhan formulasi.

10. Botanical Extracts

Ekstrak tumbuhan masih memiliki ruang yang besar dalam pengembangan skincare.

Contohnya dapat berupa berbagai plant extracts yang dipilih berdasarkan konsep produk.

Botanical extract dapat membantu membangun positioning seperti:

Modern Botanical Skincare

atau:

Nature-Inspired Skincare

Namun, penggunaan kata “natural” tidak otomatis berarti sebuah formula lebih baik atau lebih aman.

Bahan tetap perlu memenuhi persyaratan teknis dan evaluasi formula yang sesuai.

Bahan Aktif Skincare Berdasarkan Konsep Produk

Daripada memilih kandungan satu per satu, brand owner dapat mulai dari konsep produk.

Pendekatan ini membantu tim menentukan bahan yang relevan sebelum masuk lebih jauh ke tahap formulasi.

Berikut contoh sederhananya.

Konsep Produk Kandungan yang Dapat Dipertimbangkan*
Hydrating Hyaluronic Acid, Glycerin, Panthenol
Barrier Care Ceramide, Panthenol, Humectant/Emollient System
Brightening Niacinamide, Vitamin C Derivatives, bahan lain sesuai formula
Oily Skin Care Niacinamide, Salicylic Acid sesuai kebutuhan formula
Exfoliating AHA/BHA sesuai formulasi dan ketentuan
Soothing Centella Asiatica, Panthenol, botanical ingredients
Premium/Mature Skin Peptide, antioxidants, conditioning ingredients
Botanical Selected botanical extracts

*Contoh tersebut bukan formula siap produksi dan bukan rekomendasi penggunaan atau konsentrasi tertentu. Formula tetap perlu dikembangkan sesuai karakter produk dan ketentuan yang berlaku.

Cara Memilih Bahan Aktif Skincare untuk Brand Anda

Sekarang masuk ke bagian yang paling penting bagi calon brand owner.

1. Mulai dari Target Konsumen

Jangan mulai dari ingredient.

Mulailah dari konsumen.

Misalnya:

Target: perempuan 18–25 tahun
Concern: skincare harian untuk kulit berminyak
Harga: mass–masstige
Channel: marketplace dan social commerce

Dari data tersebut, tim dapat mulai mengembangkan konsep produk yang lebih spesifik dan menentukan bahan aktif skincare yang relevan dengan kebutuhan tersebut.

Bandingkan dengan:

Target: perempuan 30+
Positioning: premium skincare
Channel: clinic, premium retail, online
Experience: sophisticated

Kedua produk tersebut mungkin membutuhkan formula, bahan, tekstur, kemasan, dan strategi harga yang berbeda.

2. Tentukan Fungsi Utama Produk

Satu produk tidak perlu mencoba menjawab seluruh kebutuhan kulit sekaligus.

Tentukan primary benefit terlebih dahulu.

Contoh:

Hydrating serum untuk penggunaan sehari-hari.

Setelah itu, tentukan manfaat pendukung.

Pendekatan ini biasanya lebih jelas daripada mencoba membuat:

Brightening + anti-aging + acne + hydrating + barrier + exfoliating + pore care serum.

Konsep yang terlalu luas dapat membuat positioning produk sulit dipahami.

Setelah fungsi utama ditentukan, tim dapat memilih bahan aktif skincare yang mendukung konsep tersebut tanpa memasukkan terlalu banyak kandungan yang tidak memiliki fungsi jelas.

3. Tentukan Format Produk

Bahan yang dipilih juga harus sesuai dengan format produk.

Apakah Anda ingin membuat:

  • Facial wash

  • Toner

  • Essence

  • Serum

  • Gel

  • Moisturizer

  • Cream

  • Sunscreen

  • Mask

Formula serum tentu memiliki pertimbangan yang berbeda dari cleanser.

Karena itu, ingredient tidak dapat dipisahkan dari product format.

Jika Anda sedang mengembangkan produk skincare melalui sistem maklon, Anda dapat melihat layanan jasa maklon skincare AMJ untuk memahami alur pengembangan produk.

4. Sesuaikan dengan Positioning Harga

Ini sering terlupakan.

Formula yang sangat kompleks dapat meningkatkan biaya produk.

Karena itu, brand perlu mengetahui:

Target HPP → Target harga jual → Target margin → Positioning

Jika target retail hanya Rp49.000 tetapi product brief meminta banyak specialty ingredients dan packaging premium, pengembangan produk dapat menjadi tidak realistis secara komersial.

R&D bukan hanya tentang membuat formula yang menarik.

R&D juga perlu membantu menghasilkan formula yang sesuai dengan tujuan bisnis.

Dalam konteks tersebut, pemilihan bahan aktif skincare perlu mempertimbangkan keseimbangan antara fungsi produk, biaya bahan, pengalaman penggunaan, dan target harga.

5. Jangan Mengejar Persentase Hanya untuk Marketing

Salah satu tren dalam pemasaran skincare adalah menampilkan angka konsentrasi dengan sangat besar.

Contoh:

5% X

10% Y

2% Z

Angka memang dapat membantu komunikasi produk dalam konteks tertentu.

Namun, lebih tinggi tidak selalu berarti lebih baik.

Formulator perlu mempertimbangkan:

  • Fungsi

  • Stabilitas

  • Compatibility

  • pH

  • Solubility

  • Sensory

  • Product format

  • Regulasi

  • Keseluruhan formula

Karena itu, jangan membangun formula hanya untuk memenangkan “perang persentase” dengan kompetitor.

Apakah Semakin Banyak Bahan Aktif Skincare Semakin Bagus?

Tidak selalu.

Formula dengan sepuluh hero ingredients tidak otomatis lebih baik daripada formula dengan tiga kandungan utama.

Dalam pengembangan kosmetik, tim perlu mempertimbangkan bagaimana setiap komponen bekerja dalam keseluruhan sistem.

Terlalu banyak bahan juga dapat membuat:

  • Formula lebih kompleks

  • Pengembangan lebih sulit

  • Biaya meningkat

  • Positioning tidak fokus

  • Komunikasi pemasaran membingungkan

Brand sebaiknya memilih bahan aktif skincare yang memiliki alasan jelas.

Gunakan prinsip:

Target Konsumen → Concern → Product Concept → Formula → Hero Ingredients

Bukan:

Trending Ingredient → Tambahkan Semuanya → Cari Konsep Belakangan

Bahan Aktif Skincare dan Stabilitas Formula

Salah satu aspek yang sering tidak terlihat oleh konsumen adalah stabilitas formula.

Brand mungkin memiliki konsep yang bagus di atas kertas.

Namun, formula juga perlu mempertahankan karakter yang sesuai selama pengembangan.

Beberapa parameter yang dapat menjadi perhatian dalam evaluasi formula antara lain:

  • Warna

  • Aroma

  • Viskositas

  • Homogenitas

  • pH

  • Penampilan

  • Kompatibilitas formula dan kemasan

Inilah sebabnya sample dan evaluasi formula menjadi penting sebelum produksi.

AMJ sendiri memasukkan pembuatan sample serta evaluasi dan penyempurnaan sebagai bagian dari alur pengembangan sebelum produk masuk produksi.

Pentingnya Sample Sebelum Menentukan Formula Final

Brand owner sebaiknya tidak menilai formula hanya dari daftar ingredients.

Anda perlu mencoba sample.

Saat menerima sample, evaluasi:

Tekstur
Apakah sesuai dengan positioning?

Absorption
Bagaimana sensasinya setelah diaplikasikan?

Finish
Matte, dewy, silky, atau rich?

Aroma
Apakah sesuai dengan target konsumen?

Warna
Apakah sesuai dengan konsep?

Layering
Bagaimana karakter produk saat digunakan dalam rutinitas?

Packaging compatibility
Apakah format formula sesuai dengan kemasan yang direncanakan?

Feedback kemudian diberikan kepada formulator.

Contohnya:

“Kami ingin serum terasa lebih ringan dan cepat menyebar tanpa meninggalkan sensasi terlalu berat.”

Feedback tersebut jauh lebih berguna daripada:

“Kurang enak.”

Pada layanan jasa formulasi produk kosmetik AMJ, pengembangan formula mencakup pembuatan sample, evaluasi, serta penyesuaian formula berdasarkan konsep dan feedback brand.

Regulasi Bahan Aktif Skincare di Indonesia

Ini merupakan bagian yang tidak boleh diabaikan.

Brand tidak dapat memasukkan bahan kosmetik secara bebas hanya karena kandungan tersebut populer di luar negeri.

Indonesia memiliki persyaratan teknis bahan kosmetik.

PerBPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik saat ini berstatus berlaku dan mencabut PerBPOM Nomor 23 Tahun 2019 beserta perubahannya.

Regulasi ASEAN juga mengenal daftar bahan yang dilarang, bahan dengan pembatasan tertentu, serta ketentuan untuk colouring agents, preservatives, UV filters, dan kategori bahan lainnya.

Karena itu, brand owner sebaiknya tidak menentukan bahan aktif skincare dan konsentrasi hanya dari:

  • TikTok

  • Instagram

  • Marketplace

  • Produk kompetitor

  • Artikel luar negeri

  • Tren viral

Gunakan tren tersebut sebagai market insight, bukan sebagai formula final.

Tim formulasi tetap perlu mengevaluasi kelayakannya.

Bahan Aktif Skincare dan Product Claims

Ada perbedaan antara memilih bahan dengan membuat klaim terhadap produk jadi.

Misalnya, keberadaan satu ingredient tertentu tidak otomatis berarti brand dapat membuat klaim apa pun terhadap produknya.

ASEAN Cosmetic Directive secara khusus mencakup ketentuan mengenai product claims, ingredient listing, labeling, product information, dan safety requirements.

Karena itu, sebaiknya rencanakan:

Formula + Claims + Packaging + Marketing

secara terintegrasi.

Jangan menunggu produk selesai lalu baru menentukan klaim pemasaran.

Pemilihan bahan aktif skincare sebaiknya sejak awal sudah dipertimbangkan bersama tujuan komunikasi produk agar formula dan positioning tetap konsisten.

Kesalahan Brand Owner Saat Memilih Bahan Aktif Skincare

Beberapa kesalahan berikut cukup mudah terjadi saat menyusun konsep produk.

Pertama, memilih bahan hanya karena viral. Tren dapat membantu membaca pasar, tetapi tren tidak menggantikan product strategy.

Kedua, mengejar konsentrasi setinggi mungkin. Persentase perlu memiliki alasan formulasi, bukan sekadar angka pemasaran.

Ketiga, terlalu banyak hero ingredients. Konsumen akhirnya tidak memahami fokus utama produk.

Keempat, mengabaikan target harga. Formula harus masuk ke struktur bisnis produk.

Kelima, meniru formula kompetitor. Benchmarking boleh dilakukan, tetapi brand tetap membutuhkan diferensiasi.

Keenam, tidak memikirkan packaging sejak awal. Formula dan kemasan perlu kompatibel.

Ketujuh, tidak memperhatikan regulasi. Bahan kosmetik perlu mengikuti persyaratan yang berlaku.

Kedelapan, langsung produksi tanpa evaluasi sample. Sample memberikan kesempatan kepada brand untuk mengevaluasi karakter formula sebelum finalisasi.

Bagaimana Membuat Product Brief Bahan Aktif Skincare?

Anda tidak harus memahami kimia kosmetik untuk memulai diskusi dengan perusahaan maklon.

Namun, product brief yang jelas sangat membantu.

Gunakan format seperti berikut:

Product: Facial Serum
Target: Women 20–30 years old
Skin Concern: Hydration & barrier care
Positioning: Masstige
Texture: Lightweight serum
Finish: Non-sticky
Fragrance: Minimal
Hero Ingredient Concept: Hyaluronic Acid + Panthenol + Ceramide concept
Packaging: 20–30 ml pump/dropper
Target Retail: Rp129.000–Rp159.000
Reference: 2–3 competitor products
Additional Requirement: Suitable for daily skincare routine

Tim R&D kemudian memiliki konteks yang jauh lebih jelas.

Mereka tidak hanya menerima permintaan:

“Buat serum yang bagus.”

Dengan product brief tersebut, pembahasan mengenai bahan aktif skincare juga dapat menjadi lebih terarah karena tim sudah memahami target, fungsi, positioning, dan pengalaman produk yang diinginkan.

Dari Bahan Aktif hingga Produk Skincare Siap Diproduksi

Pemilihan bahan hanyalah salah satu tahap pengembangan produk.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan sebagai:

Ide Brand → Target Konsumen → Product Concept → Bahan Aktif → Formulasi → Sample → Evaluasi → Finalisasi → Produksi → Packaging

AMJ menjelaskan bahwa proses maklonnya mencakup konsultasi konsep, formulasi, pemilihan bahan baku, pembuatan sample, evaluasi, produksi, hingga pengemasan.

Anda dapat mempelajari keseluruhan proses maklon kosmetik AMJ sebelum memulai pengembangan produk.

Mengembangkan Formula Skincare Bersama PT Anugerah Malik Jabbar

Bagi brand owner yang sudah memiliki konsep bahan aktif skincare tetapi belum memiliki formula final, bekerja bersama tim formulasi dapat membantu menerjemahkan konsep tersebut menjadi product brief dan formula yang lebih terarah.

PT Anugerah Malik Jabbar menyediakan layanan pengembangan kosmetik yang mencakup R&D, formulasi, bahan baku, sample, produksi, hingga layanan pendukung lainnya.

Brand dapat memulai dengan menyampaikan:

  • Target konsumen

  • Jenis produk

  • Skin concern

  • Desired texture

  • Hero ingredient

  • Product reference

  • Positioning

  • Target harga

  • Konsep packaging

  • Estimasi kebutuhan produksi

Selanjutnya, tim pengembangan dapat mendiskusikan pendekatan formula sesuai kebutuhan produk.

Untuk formula yang membutuhkan pengembangan khusus, lihat jasa formulasi produk kosmetik AMJ.

Jika Anda ingin mengembangkan lini skincare secara lebih menyeluruh, pelajari juga jasa maklon skincare AMJ.

FAQ Bahan Aktif Skincare

Apa itu bahan aktif skincare?

Istilah bahan aktif skincare umumnya digunakan untuk kandungan yang dipilih karena memiliki fungsi tertentu dalam konsep formula dan sering menjadi bagian dari positioning produk. Namun, performa produk tetap bergantung pada keseluruhan formula.

Bahan aktif skincare apa yang bagus?

Tidak ada satu bahan yang paling bagus untuk semua produk. Pemilihannya perlu menyesuaikan target konsumen, fungsi produk, jenis formula, positioning, dan ketentuan yang berlaku.

Apa bahan aktif untuk hydrating skincare?

Hyaluronic acid, panthenol, glycerin, dan komponen moisturizing lainnya dapat dipertimbangkan dalam konsep hydrating skincare. Formula final tetap perlu dikembangkan sebagai satu sistem.

Apa bahan aktif untuk skin barrier?

Ceramide dan panthenol sering muncul dalam konsep barrier care. Namun, formulasi moisturizer atau barrier product juga melibatkan komponen lain seperti humectant dan emollient.

Apakah semakin tinggi konsentrasi bahan aktif semakin bagus?

Tidak selalu. Konsentrasi perlu mempertimbangkan fungsi, keamanan, stabilitas, karakter formula, regulasi, dan tujuan produk. Konsentrasi lebih tinggi bukan otomatis berarti performa produk lebih baik.

Apakah boleh menggabungkan beberapa bahan aktif?

Dapat dilakukan tergantung karakter masing-masing bahan dan desain formula. Formulator perlu mengevaluasi kompatibilitas, pH, stabilitas, konsentrasi, serta keseluruhan sistem formula.

Apakah bahan aktif skincare harus mengikuti BPOM?

Bahan yang digunakan dalam kosmetik yang dipasarkan di Indonesia perlu mengikuti persyaratan teknis bahan kosmetik yang berlaku. PerBPOM No. 25 Tahun 2025 saat ini mengatur Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik dan berstatus berlaku.

Apakah AMJ bisa membuat formula berdasarkan konsep bahan aktif?

AMJ menyediakan layanan formulasi berdasarkan konsep brand, fungsi produk, target konsumen, karakteristik yang diinginkan, serta positioning. Prosesnya dapat mencakup pembuatan sample, evaluasi, dan penyesuaian sebelum formula difinalisasi.

Pilih Bahan Aktif Skincare Berdasarkan Konsep, Bukan Sekadar Tren

Memilih bahan aktif skincare merupakan bagian penting dalam membangun produk yang memiliki arah jelas.

Namun, bahan yang populer belum tentu menjadi pilihan yang sesuai untuk setiap brand.

Mulailah dari:

Target Konsumen → Skin Concern → Positioning → Product Concept → Formula → Bahan Aktif → Sample → Evaluasi → Produksi

Dengan alur tersebut, brand dapat membangun produk berdasarkan kebutuhan konsumen dan tujuan bisnis, bukan sekadar mengikuti ingredient yang sedang viral.

Selain itu, formula perlu mempertimbangkan kompatibilitas bahan, karakter produk, stabilitas, kemasan, target harga, komunikasi produk, dan regulasi kosmetik yang berlaku.

Jika Anda sudah memiliki ide produk atau daftar bahan aktif skincare yang ingin dikembangkan, pelajari terlebih dahulu proses maklon kosmetik AMJ dan jasa formulasi produk kosmetik AMJ untuk memahami bagaimana konsep dapat dikembangkan menuju sample dan produksi.

Saatnya mengubah ide produk menjadi brand skincare Anda sendiri.

Hubungi PT Anugerah Malik Jabbar untuk mendiskusikan konsep, formulasi, serta kebutuhan produksi produk kosmetik Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

✓
Konsultasi Produk

Lengkapi Data Anda

Silakan lengkapi data berikut agar tim PT Anugerah Malik Jabbar dapat memahami kebutuhan produk Anda sebelum melanjutkan konsultasi melalui WhatsApp.

Data digunakan untuk membantu tim memahami kebutuhan konsultasi Anda.

Anugerah Malik Jabbar

Online · Respon Cepat

👋 Halo! Selamat datang di Anugerah Malik Jabbar.
Tertarik untuk maklon produk kosmetik impian Anda? Silakan hubungi kami untuk informasi selengkapnya.
09:00
Konsultasi Maklon
Customer Service AMJ 0813-3777-3244