Formula Skincare Sesuai Target Konsumen

Formula skincare sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan bahan aktif yang sedang populer. Brand perlu memahami siapa target konsumennya, masalah kulit yang ingin dijawab, jenis produk, tekstur, pengalaman penggunaan, positioning harga, hingga klaim yang ingin dikomunikasikan.

Formula yang tepat harus mempertemukan tiga hal: kebutuhan konsumen, konsep brand, dan kelayakan produk.

Karena itu, sebelum memproduksi skincare dalam jumlah besar, pemilik brand perlu menyusun product brief yang jelas lalu mengembangkan formula melalui proses formulasi, sampling, evaluasi, dan pengujian yang sesuai.

Bagi brand yang tidak memiliki fasilitas R&D dan produksi sendiri, bekerja sama dengan penyedia jasa maklon skincare PT Anugerah Malik Jabbar dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengembangkan konsep menjadi produk yang lebih terarah.

Apa Itu Formula Skincare?

Formula skincare adalah komposisi bahan yang dirancang dalam kadar tertentu untuk menghasilkan produk perawatan kulit dengan karakteristik dan fungsi yang diinginkan.

Formula tidak hanya menentukan bahan aktif. Formulator juga perlu mempertimbangkan berbagai komponen lain yang membentuk karakter produk, seperti basis formula, humektan, emollient, emulsifier, thickener, preservative, fragrance apabila digunakan, serta bahan lain sesuai jenis sediaannya.

BPOM menjelaskan bahwa dokumen formula kosmetik mencantumkan nama dan fungsi bahan, kadar bahan dalam persentase dengan total 100%, serta kesesuaiannya dengan ketentuan berdasarkan jenis sediaan atau kegunaan produk. Formula pada data notifikasi juga perlu sesuai dengan dokumen CPKB/GMP dan Dokumen Informasi Produk (DIP).

Karena itu, proses formulasi skincare perlu dilakukan secara sistematis, bukan sekadar menggabungkan beberapa bahan yang sedang tren.

Mengapa Target Konsumen Harus Ditentukan Sebelum Membuat Formula?

Target konsumen akan memengaruhi banyak keputusan dalam pengembangan produk.

Sebagai contoh, moisturizer untuk konsumen remaja dengan kulit cenderung berminyak mungkin membutuhkan pendekatan berbeda dari moisturizer yang ditujukan untuk konsumen dengan kulit kering.

Begitu pula produk yang diposisikan sebagai daily basic skincare akan memiliki pertimbangan berbeda dibandingkan produk premium yang ingin menawarkan pengalaman penggunaan tertentu.

Target konsumen dapat membantu brand menentukan:

  • kebutuhan utama produk;
  • jenis kulit yang dituju;
  • tekstur yang diharapkan;
  • pengalaman pemakaian;
  • bahan yang relevan;
  • positioning produk;
  • rentang harga;
  • ukuran kemasan; dan
  • komunikasi produk.

Dengan demikian, pertanyaan pertama dalam pengembangan formula skincare sebaiknya bukan “bahan aktif apa yang sedang viral?”, tetapi “siapa yang akan menggunakan produk ini dan kebutuhan apa yang ingin dijawab?”

7 Cara Menentukan Formula Skincare Sesuai Target Konsumen

Berikut tujuh tahapan yang dapat digunakan brand sebagai dasar sebelum mengembangkan produk bersama tim formulasi atau perusahaan maklon.

1. Tentukan Profil Target Konsumen

Langkah pertama adalah mendefinisikan calon pengguna secara spesifik.

Hindari target yang terlalu luas seperti:

“Produk ini untuk semua orang.”

Target seperti itu akan membuat keputusan formulasi dan positioning menjadi kurang fokus.

Sebaliknya, brand dapat mulai dengan membuat profil konsumen berdasarkan beberapa aspek.

Usia

Kebutuhan konsumen remaja dapat berbeda dengan konsumen dewasa. Namun, usia sebaiknya tidak menjadi satu-satunya dasar formulasi.

Jenis Kulit

Tentukan apakah produk ingin diarahkan untuk:

  • kulit normal;
  • kulit kering;
  • kulit berminyak;
  • kulit kombinasi; atau
  • target kebutuhan kulit tertentu yang relevan.

Kebutuhan Konsumen

Selanjutnya, identifikasi alasan utama konsumen mencari produk tersebut.

Misalnya, mereka mungkin menginginkan produk yang membantu menjaga kelembapan, membersihkan kulit, memberikan pengalaman penggunaan ringan, atau melengkapi rutinitas skincare sehari-hari.

Kebiasaan Menggunakan Skincare

Konsumen pemula mungkin lebih menyukai rutinitas sederhana. Sebaliknya, konsumen yang sudah terbiasa menggunakan skincare dapat memiliki preferensi yang lebih spesifik terhadap tekstur, layering, ingredients, dan sensory experience.

Informasi ini akan menjadi dasar penyusunan product brief.

2. Tentukan Masalah yang Ingin Dijawab Produk

Setelah memahami target konsumen, tentukan satu fungsi utama produk.

Jangan mencoba memasukkan terlalu banyak tujuan ke dalam satu produk hanya karena ingin terlihat lebih lengkap.

Misalnya, brand ingin mengembangkan serum.

Daripada hanya mengatakan:

“Kami ingin serum yang bagus.”

Buat brief yang lebih jelas, misalnya:

“Kami ingin mengembangkan serum harian dengan tekstur ringan untuk target konsumen dewasa muda yang mengutamakan hidrasi dan kenyamanan penggunaan.”

Brief seperti ini jauh lebih membantu tim R&D dalam menerjemahkan konsep menjadi formula skincare.

Selain itu, fungsi produk juga berkaitan dengan klaim yang nantinya dikomunikasikan.

Di Indonesia, BPOM memiliki regulasi khusus mengenai Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika, yaitu PerBPOM No. 3 Tahun 2022.

ASEAN Cosmetic Directive juga menyatakan bahwa manfaat yang diklaim untuk kosmetik pada prinsipnya harus didukung oleh bukti dan/atau formulasi kosmetik tersebut.

Karena itu, brand sebaiknya menyelaraskan formula, fungsi, bukti pendukung, dan klaim pemasaran sejak tahap pengembangan.

3. Pilih Jenis Produk yang Sesuai

Setelah mengetahui masalah konsumen, tentukan bentuk produk yang paling relevan.

Satu kebutuhan tidak selalu harus dijawab dengan satu jenis skincare tertentu.

Brand dapat mempertimbangkan:

Jenis Produk Pertimbangan Pengembangan
Facial Wash Kemampuan membersihkan dan kenyamanan setelah penggunaan
Toner Tekstur, pengalaman penggunaan, dan fungsi produk
Serum Fokus formula dan karakter aplikasi
Essence Tekstur ringan dan pengalaman layering
Moisturizer Kelembapan, tekstur, dan skin feel
Face Cream Richness dan kenyamanan penggunaan
Face Mask Format, tekstur, dan cara penggunaan
Sunscreen Perlindungan UV dan karakter penggunaan sesuai persyaratan terkait

Pemilihan jenis produk harus selaras dengan target pasar.

Produk yang terlihat menarik secara tren belum tentu menjadi produk terbaik untuk audience brand Anda.

Jika Anda masih berada pada tahap awal membangun bisnis, panduan 7 langkah memulai bisnis kosmetik untuk pemula dapat membantu melihat pengembangan produk dari sisi bisnis secara lebih luas.

4. Tentukan Bahan Berdasarkan Fungsi Formula

Setelah konsep produk jelas, barulah masuk ke pemilihan bahan.

Ini merupakan bagian yang sering mendapatkan perhatian paling besar dari pemilik brand. Namun, bahan populer belum tentu otomatis menghasilkan produk yang sesuai target pasar.

Dalam sebuah formula skincare, setiap bahan memiliki fungsi tertentu.

Secara umum, formulasi dapat melibatkan komponen seperti:

Humectant untuk membantu mempertahankan kelembapan.

Emollient untuk memberikan karakter lembut dan membantu membentuk skin feel.

Emulsifier untuk membantu membentuk dan menjaga sistem emulsi pada formula tertentu.

Thickener untuk membantu mendapatkan viskositas atau tekstur yang diinginkan.

Preservative system untuk mendukung perlindungan produk dari kontaminasi mikroba sesuai kebutuhan formulasi.

Active ingredients dipilih berdasarkan konsep dan fungsi produk.

Pemilihan bahan juga tidak boleh terlepas dari regulasi.

Per September 2026, Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik berstatus berlaku. Regulasi tersebut menggantikan PerBPOM No. 23 Tahun 2019 beserta perubahan sebelumnya.

Pemilik brand dapat mempelajari ketentuan tersebut melalui PerBPOM No. 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik.

Karena itu, jangan memilih bahan hanya karena sedang viral di media sosial. Evaluasi bahan berdasarkan fungsi, konsentrasi, kompatibilitas formula, keamanan, ketentuan regulasi, dan positioning produk.

Kualitas serta konsistensi bahan baku juga menjadi pertimbangan. Anda dapat membaca 7 tips pengadaan bahan baku kosmetik di Indonesia untuk memahami aspek ini lebih lanjut.

5. Tentukan Tekstur dan Sensory Experience

Dua produk dapat memiliki konsep bahan yang mirip tetapi memberikan pengalaman yang sangat berbeda ketika digunakan.

Inilah mengapa tekstur merupakan bagian penting dalam formula skincare.

Pertimbangkan apakah produk ingin terasa:

  • watery;
  • lightweight;
  • gel-like;
  • creamy;
  • rich;
  • cepat meresap;
  • memberikan sensasi tertentu yang sesuai konsep; atau
  • mudah digunakan bersama produk skincare lainnya.

Sensory experience dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap produk.

Sebagai contoh, brand yang menargetkan pengguna yang menyukai rutinitas sederhana mungkin ingin mengeksplorasi produk yang nyaman dan mudah diaplikasikan.

Sebaliknya, produk dengan positioning premium mungkin membutuhkan pengalaman pemakaian yang berbeda sesuai identitas dan konsep brand.

Namun, keputusan ini tidak seharusnya dibuat hanya oleh marketing. Tim formulasi perlu menilai apakah tekstur yang diinginkan realistis dan kompatibel dengan keseluruhan formula.

6. Buat Sample dan Lakukan Evaluasi

Formula awal belum tentu menjadi formula final.

Karena itu, tahap sampling sangat penting.

Sample memungkinkan brand mengevaluasi apakah konsep di atas kertas sudah sesuai ketika diwujudkan menjadi produk.

Hal-hal yang dapat diperhatikan selama evaluasi antara lain:

  • warna;
  • aroma;
  • tekstur;
  • viskositas;
  • kemudahan aplikasi;
  • skin feel;
  • penyerapan;
  • tampilan produk; dan
  • kesesuaian dengan konsep brand.

Jika hasil sample belum sesuai, tim formulasi dapat melakukan penyesuaian sebelum formula masuk ke tahap berikutnya.

Proses ini sebaiknya tidak dilewati hanya untuk mempercepat produksi.

Baca penjelasan lengkap mengenai Sample Kosmetik: 7 Alasan Penting Sebelum Produksi untuk memahami mengapa evaluasi sample berpengaruh terhadap keputusan sebelum produksi massal.

7. Evaluasi Stabilitas Sebelum Produksi dan Pemasaran

Setelah formula skincare semakin mendekati target, pengembangan produk belum selesai.

Formula perlu melalui evaluasi dan pengujian yang sesuai untuk memastikan karakter produk dapat dipertahankan dalam kondisi yang ditentukan.

Uji stabilitas dapat membantu mengevaluasi perubahan karakteristik produk selama periode dan kondisi pengujian tertentu.

Parameter yang diperhatikan bergantung pada produk dan metode pengujian, tetapi dapat mencakup aspek fisik maupun parameter lain yang relevan.

Tahap ini penting karena sample yang terlihat baik pada hari pertama belum tentu memberikan gambaran mengenai kondisi produk setelah disimpan.

Anda dapat mempelajari tahap ini melalui artikel 5 alasan utama uji stabilitas kosmetik wajib dilakukan sebelum dipasarkan.

Dengan demikian, proses yang lebih tepat bukan:

Ide → langsung produksi

melainkan:

Target Konsumen → Konsep → Formula → Sample → Evaluasi → Pengujian → Finalisasi → Persiapan Produksi

Contoh Menentukan Formula Skincare Berdasarkan Target Konsumen

Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana.

Misalnya sebuah brand ingin membuat moisturizer.

Konsep A: Moisturizer untuk Pengguna yang Menyukai Tekstur Ringan

Product brief dapat diarahkan pada:

Target: konsumen yang menginginkan moisturizer harian ringan.

Kebutuhan: membantu menjaga kelembapan dan memberikan pengalaman penggunaan nyaman.

Tekstur: lightweight gel atau gel-cream sesuai hasil pengembangan.

Skin Feel: tidak terasa terlalu berat.

Positioning: daily skincare.

Tim formulasi kemudian menerjemahkan brief tersebut menjadi formula teknis.

Konsep B: Moisturizer dengan Sensasi Lebih Rich

Brand lain mungkin menargetkan konsumen yang menyukai moisturizer dengan tekstur lebih rich.

Product brief-nya tentu berbeda:

Target: pengguna yang menginginkan pengalaman moisturizing lebih rich.

Tekstur: cream.

Skin Feel: lebih emollient.

Positioning: intensive-feel skincare atau sesuai konsep brand.

Dua produk sama-sama moisturizer, tetapi formula skincare, tekstur, bahan, kemasan, dan komunikasi produknya dapat berbeda.

Inilah alasan target konsumen harus ditentukan sebelum formulasi dimulai.

Formula Skincare dan Positioning Brand Harus Sejalan

Formula bukan hanya persoalan laboratorium.

Formula juga berhubungan dengan bagaimana produk akan diposisikan di pasar.

Misalnya, brand ingin berada pada kategori affordable skincare.

Tim harus mempertimbangkan formula yang memenuhi konsep produk sambil tetap realistis terhadap target biaya produksi.

Sebaliknya, apabila brand ingin masuk ke segmen premium, pertimbangan formula dapat melibatkan sensory experience, pemilihan bahan, konsep kemasan, dan karakter produk yang mendukung positioning tersebut.

Jadi terdapat hubungan antara:

Target Konsumen → Formula → Kemasan → Harga → Positioning → Marketing

Jika salah satunya tidak selaras, produk berisiko sulit dikomunikasikan kepada pasar.

Jangan Menentukan Formula Hanya Berdasarkan Tren

Tren dapat menjadi sumber inspirasi, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar pengembangan produk.

Bahan tertentu dapat menjadi populer karena viral di media sosial. Namun, brand tetap perlu bertanya:

Apakah bahan ini relevan dengan target konsumen?

Apa fungsi bahan tersebut di dalam formula?

Apakah konsentrasinya sesuai?

Apakah kompatibel dengan komponen formula lainnya?

Apakah penggunaannya sesuai dengan regulasi?

Apakah bahan tersebut mendukung positioning produk?

Apakah klaim yang akan dibuat dapat dipertanggungjawabkan?

Pendekatan tersebut lebih kuat daripada sekadar memasukkan sebanyak mungkin bahan populer ke dalam satu produk.

Formula Skincare Harus Mempertimbangkan Regulasi

Pengembangan produk kosmetik tidak dapat dipisahkan dari regulasi.

ASEAN Cosmetic Directive mengatur berbagai aspek seperti keselamatan, ingredient listing, labeling, product claims, dan product information. Untuk informasi produk, dokumen yang perlu tersedia mencakup komposisi kualitatif dan kuantitatif, spesifikasi bahan baku dan produk jadi, metode produksi sesuai GMP, penilaian keselamatan, serta data pendukung klaim.

Anda dapat melihat kerangka regulasinya melalui ASEAN Cosmetic Directive – Articles of ACD.

Di Indonesia, persyaratan teknis bahan kosmetik saat ini diatur melalui PerBPOM No. 25 Tahun 2025.

Selain itu, BPOM pada 2026 juga memperbarui regulasi sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik melalui PerBPOM No. 8 Tahun 2026, yang menggantikan PerBPOM No. 33 Tahun 2021.

Artinya, brand sebaiknya mengembangkan formula dengan mempertimbangkan persyaratan teknis sejak awal, bukan baru memikirkan regulasi setelah produk selesai.

Hubungan Formula dengan Klaim Produk

Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah membuat klaim marketing terlebih dahulu, kemudian mencoba menyesuaikan formula belakangan.

Idealnya, formula dan klaim dikembangkan secara selaras.

ASEAN Cosmetic Directive menegaskan bahwa klaim manfaat kosmetik pada prinsipnya harus didukung bukti dan/atau formulasi produk.

Sementara itu, BPOM memiliki PerBPOM No. 3 Tahun 2022 tentang Persyaratan Teknis Klaim Kosmetika, yang saat ini tercatat berlaku.

Jadi, tim marketing dan tim formulasi perlu berkomunikasi sejak tahap product brief.

Tujuannya agar pesan yang nantinya disampaikan kepada konsumen tetap sejalan dengan karakter dan fungsi produk.

Mengapa Pemilihan Bahan Baku Penting?

Formula yang sudah dirancang dengan baik tetap membutuhkan bahan baku yang sesuai spesifikasi.

Pemilik brand perlu mempertimbangkan kualitas, konsistensi, dokumentasi, ketersediaan, dan kesesuaian bahan dengan kebutuhan formulasi.

Perubahan bahan baku juga dapat memengaruhi karakter formula. Karena itu, pengadaan bahan sebaiknya tidak dipandang hanya sebagai aktivitas mencari harga paling rendah.

Pelajari lebih lanjut melalui panduan pengadaan bahan baku kosmetik di Indonesia.

Formula, Kemasan, dan Stabilitas Saling Berkaitan

Formula tidak berdiri sendiri.

Produk akan berada di dalam kemasan selama penyimpanan, distribusi, dan penggunaan oleh konsumen.

Karena itu, pemilihan packaging perlu mempertimbangkan karakter produk dan kesesuaiannya dengan formula.

Brand sebaiknya tidak memilih kemasan hanya berdasarkan visual.

Tim pengembangan perlu mempertimbangkan hal-hal seperti:

  • bentuk sediaan;
  • viskositas;
  • cara penggunaan;
  • sistem dispensing;
  • kebutuhan perlindungan produk;
  • compatibility yang relevan; dan
  • pengalaman pengguna.

Setelah itu, pengujian yang sesuai membantu mengevaluasi performa produk.

Artikel uji stabilitas kosmetik sebelum dipasarkan dapat menjadi bacaan lanjutan setelah memahami dasar formulasi.

Berapa Biaya Mengembangkan Formula Skincare?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua produk.

Biaya dapat berbeda berdasarkan:

  • kompleksitas formula;
  • jenis bahan;
  • bahan aktif;
  • kemasan;
  • jumlah sample dan revisi;
  • pengujian;
  • legalitas;
  • MOQ produksi; dan
  • kebutuhan branding.

Karena itu, sebaiknya brand menentukan target harga produk sejak tahap awal.

Misalnya, apabila produk akan dijual pada segmen harga tertentu, informasi tersebut dapat membantu tim mempertimbangkan apakah konsep formula dan packaging masih realistis secara komersial.

Jika Anda sedang menyusun anggaran, baca Modal Bisnis Skincare: 7 Biaya Penting yang Wajib Disiapkan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Membuat Formula Skincare

Beberapa kesalahan yang sering terjadi pada tahap konsep dapat membuat pengembangan produk menjadi lebih panjang.

Target konsumen terlalu luas. Formula akhirnya tidak memiliki positioning yang jelas.

Memasukkan terlalu banyak bahan aktif. Banyak ingredients tidak otomatis membuat formula lebih baik.

Mengikuti tren tanpa strategi. Tren dapat berubah sebelum produk selesai dikembangkan.

Tidak memiliki target harga. Formula bagus tetapi biaya akhirnya tidak sesuai business model.

Mengabaikan sensory experience. Konsumen tidak hanya membaca ingredient list, tetapi juga menggunakan dan merasakan produknya.

Melewati sampling. Brand kehilangan kesempatan mengevaluasi produk sebelum tahap lebih lanjut.

Tidak mempertimbangkan stabilitas. Produk yang terlihat baik saat baru dibuat tetap perlu dievaluasi lebih lanjut.

Memisahkan formula dari klaim. Klaim sebaiknya dikembangkan berdasarkan karakter dan bukti pendukung produk.

Dari Formula Skincare Menuju Produksi

Setelah formula selesai dikembangkan, produk masih melewati beberapa tahap sebelum siap diproduksi dan dipasarkan.

Alurnya secara sederhana dapat berupa:

Konsep Produk → Product Brief → Formulasi → Sampling → Evaluasi → Pengujian → Finalisasi → Persiapan Legalitas → Produksi → Quality Control

Urutan aktual dapat menyesuaikan produk, proses perusahaan, dan persyaratan yang berlaku.

Jika Anda ingin memahami proses tersebut secara lebih lengkap, baca 7 Panduan Maklon Kosmetik: Proses & Layanan.

Dengan memahami keseluruhan proses, pemilik brand dapat melihat bahwa formula skincare merupakan salah satu bagian penting dari pengembangan produk, tetapi bukan satu-satunya bagian.

Mengembangkan Formula Skincare Bersama Mitra Maklon

Brand tidak selalu harus memiliki laboratorium dan fasilitas produksi sendiri untuk mengembangkan produk skincare.

Melalui kerja sama maklon, pemilik brand dapat membawa konsep seperti:

  • target konsumen;
  • jenis produk;
  • fungsi yang diinginkan;
  • referensi tekstur;
  • positioning;
  • target harga;
  • konsep bahan;
  • referensi produk; dan
  • rencana bisnis.

Selanjutnya, konsep tersebut dapat dibahas bersama tim terkait untuk menilai kemungkinan pengembangan produk.

Anda dapat melihat layanan maklon kosmetik PT Anugerah Malik Jabbar untuk mengetahui cakupan layanan yang tersedia.

Untuk informasi mengenai perusahaan, kunjungi halaman Maklon Kosmetik Indonesia – PT Anugerah Malik Jabbar.

Checklist Sebelum Mengembangkan Formula Skincare

Sebelum menghubungi perusahaan maklon, siapkan brief sederhana agar konsultasi lebih efektif.

Pastikan Anda sudah memiliki gambaran mengenai:

  1. Siapa target konsumen Anda?
  2. Masalah atau kebutuhan apa yang ingin dijawab?
  3. Jenis skincare apa yang ingin dibuat?
  4. Tekstur seperti apa yang diinginkan?
  5. Apa fungsi utama produk?
  6. Apakah ada bahan tertentu yang ingin dieksplorasi?
  7. Bagaimana positioning brand?
  8. Berapa target harga jual?
  9. Seperti apa konsep packaging?
  10. Berapa perkiraan kebutuhan produksi?

Anda tidak harus mengetahui detail teknis formulasi.

Yang paling penting adalah membawa konsep bisnis dan target produk yang jelas, sehingga tim formulasi memiliki arah pengembangan yang lebih spesifik.

Formula yang Baik Dimulai dari Brief yang Jelas

Tidak ada satu formula skincare yang otomatis cocok untuk seluruh brand dan seluruh konsumen.

Formula perlu disesuaikan dengan tujuan produk.

Karena itu, proses pengembangan sebaiknya dimulai dari pemahaman mengenai target konsumen → kebutuhan → konsep → formula → sample → evaluasi → pengujian → produksi.

Semakin jelas product brief yang disiapkan, semakin mudah tim pengembangan memahami produk seperti apa yang ingin diwujudkan.

Setelah mendapatkan sample, jangan terburu-buru menyetujui produksi. Evaluasi karakter produk dan pahami mengapa tahap sample kosmetik penting sebelum produksi.

FAQ Formula Skincare

Apa yang dimaksud formula skincare?

Formula skincare adalah susunan bahan dengan fungsi dan kadar tertentu yang dirancang untuk menghasilkan produk perawatan kulit sesuai konsep, karakter, fungsi, dan kebutuhan yang ditetapkan.

Bagaimana cara menentukan formula skincare untuk brand baru?

Mulailah dengan menentukan target konsumen, kebutuhan kulit yang ingin dijawab, jenis produk, tekstur, fungsi utama, positioning harga, dan konsep brand. Informasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi product brief untuk proses formulasi.

Apakah formula skincare harus mengikuti tren bahan aktif?

Tidak. Tren dapat menjadi referensi, tetapi pemilihan bahan sebaiknya didasarkan pada fungsi, target konsumen, kompatibilitas formula, keamanan, regulasi, positioning, dan tujuan produk.

Apakah formula skincare perlu dibuat sample terlebih dahulu?

Sampling merupakan tahap penting untuk mengevaluasi karakter produk seperti tekstur, aroma, warna, viskositas, aplikasi, dan skin feel sebelum formula difinalisasi untuk tahapan berikutnya.

Apakah formula skincare perlu diuji stabilitas?

Evaluasi stabilitas membantu melihat perubahan karakteristik produk dalam kondisi pengujian tertentu. Jenis dan parameter pengujian perlu disesuaikan dengan produk serta prosedur pengembangan yang berlaku.

Apakah bahan kosmetik diatur oleh BPOM?

Ya. Persyaratan teknis bahan kosmetik di Indonesia saat ini diatur melalui PerBPOM No. 25 Tahun 2025, yang berstatus berlaku.

Apakah brand bisa meminta formula skincare sesuai konsep sendiri?

Konsep seperti target konsumen, jenis produk, tekstur, positioning, bahan yang ingin dieksplorasi, dan target harga dapat dibahas dengan mitra pengembangan atau maklon untuk menilai kemungkinan formulanya.

Bagaimana jika saya baru pertama kali membuat brand skincare?

Mulailah dari konsep produk dan target pasar sebelum memikirkan formula secara detail. Anda juga dapat membaca panduan memulai bisnis kosmetik untuk pemula untuk memahami tahapan bisnisnya.

Konsultasikan Pengembangan Formula Skincare Anda

Menentukan formula skincare bukan sekadar memilih bahan yang populer. Formula perlu dikembangkan berdasarkan target konsumen, fungsi produk, tekstur, positioning, persyaratan bahan, proses evaluasi, serta strategi bisnis brand.

Jika Anda sedang merencanakan produk skincare dan ingin membahas konsep produk lebih lanjut, pelajari jasa maklon skincare PT Anugerah Malik Jabbar atau hubungi PT Anugerah Malik Jabbar untuk mendiskusikan kebutuhan pengembangan produk Anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

✓
Konsultasi Produk

Lengkapi Data Anda

Silakan lengkapi data berikut agar tim PT Anugerah Malik Jabbar dapat memahami kebutuhan produk Anda sebelum melanjutkan konsultasi melalui WhatsApp.

Data digunakan untuk membantu tim memahami kebutuhan konsultasi Anda.

Anugerah Malik Jabbar

Online · Respon Cepat

👋 Halo! Selamat datang di Anugerah Malik Jabbar.
Tertarik untuk maklon produk kosmetik impian Anda? Silakan hubungi kami untuk informasi selengkapnya.
09:00
Konsultasi Maklon
Customer Service AMJ 0813-3777-3244