Formulasi kosmetik merupakan salah satu tahap penting dalam pengembangan skincare, body care, hair care, dan berbagai produk personal care. Proses ini mengubah konsep produk menjadi formula yang dapat dievaluasi sebelum masuk ke tahap produksi.
Pengembangan formula tidak hanya berfokus pada pencampuran bahan. Tim formulasi juga perlu mempertimbangkan fungsi produk, karakter bahan baku, tekstur, warna, aroma, pH, stabilitas, kemasan, serta target konsumen.
Oleh karena itu, brand perlu merencanakan proses formulasi kosmetik secara sistematis sejak awal. Pendekatan tersebut membantu tim mengembangkan sample yang lebih sesuai dengan konsep dan positioning produk.
Bagi pemilik brand yang ingin mengembangkan produk tanpa membangun fasilitas produksi sendiri, layanan maklon kosmetik Indonesia dapat menjadi salah satu pilihan untuk mendukung proses dari pengembangan hingga produksi.
Apa Itu Formulasi Kosmetik?
Formulasi kosmetik adalah proses merancang komposisi bahan untuk menghasilkan produk kosmetik dengan karakteristik tertentu. Formula dapat mencakup bahan utama, bahan aktif, emulsifier, humektan, pengawet, surfaktan, fragrance, serta bahan pendukung lain sesuai jenis produk.
Sebagai contoh, formulasi moisturizer dapat dirancang untuk menghasilkan tekstur ringan dengan daya sebar yang nyaman. Sementara itu, formulasi facial cleanser membutuhkan sistem pembersih yang sesuai dengan karakter produk yang ingin dikembangkan.
BPOM juga menjelaskan bahwa formula kosmetik dalam dokumen terkait CPKB mencantumkan nama dan fungsi bahan, kadar dalam persentase, serta total formula 100%. Nama bahan perlu mengikuti INCI Name atau referensi lain yang berlaku secara internasional.
Referensi Formula Kosmetik BPOM
Mengapa Formulasi Kosmetik Penting?
Formula menentukan banyak karakter utama sebuah produk. Karena itu, keputusan pada tahap ini dapat memengaruhi tekstur, penampilan, aroma, kenyamanan penggunaan, stabilitas, dan positioning produk.
Selain itu, pemilihan bahan perlu mempertimbangkan fungsi masing-masing komponen serta kompatibilitasnya dalam formula.
Brand juga perlu mempertimbangkan aspek regulasi sejak tahap pengembangan. Dalam kerangka ASEAN Cosmetic Directive, produk kosmetik yang dipasarkan harus memenuhi ketentuan terkait bahan, keamanan, manufaktur, pelabelan, dan dokumentasi produk.
Berikut tujuh tahapan utama yang dapat membantu menggambarkan prosesnya.
1. Menentukan Konsep Produk Kosmetik
Tahap pertama formulasi kosmetik dimulai dari konsep.
Sebelum menentukan bahan, brand perlu menjawab beberapa pertanyaan:
- Produk apa yang akan dikembangkan?
- Siapa target konsumennya?
- Apa fungsi utama produk?
- Tekstur seperti apa yang diinginkan?
- Bagaimana positioning harganya?
- Kemasan apa yang akan digunakan?
- Apa keunggulan yang ingin ditawarkan?
Sebagai contoh, brand ingin membuat brightening body serum untuk konsumen usia 20–35 tahun. Konsep awal dapat mengarah pada tekstur ringan, cepat menyerap, tidak lengket, serta memiliki karakter visual yang sesuai dengan target pasar.
Brief yang jelas membantu tim R&D menerjemahkan ide bisnis menjadi parameter pengembangan yang lebih terukur.
2. Menentukan Bahan Baku Kosmetik
Setelah konsep terbentuk, tahap berikutnya adalah menentukan bahan yang sesuai.
Satu formula dapat terdiri dari beberapa kelompok bahan dengan fungsi berbeda. Misalnya:
- bahan aktif;
- humektan;
- emollient;
- surfaktan;
- emulsifier;
- thickener;
- preservative;
- fragrance;
- antioxidant;
- solvent.
Namun, pemilihan bahan tidak sebaiknya hanya mengikuti tren. Tim perlu mengevaluasi fungsi, kompatibilitas, konsentrasi, karakteristik fisik, serta kesesuaiannya dengan konsep produk.
Kualitas dan konsistensi pemasok juga penting. Untuk memahami aspek tersebut lebih jauh, Anda dapat membaca pembahasan mengenai distributor bahan baku kosmetik Indonesia.
3. Membuat Prototype Formula
Setelah bahan ditentukan, formulator mulai menyusun prototype.
Pada tahap ini, tim R&D menentukan komposisi dan persentase masing-masing bahan. Selain itu, tim menentukan urutan pencampuran, suhu proses, kecepatan pengadukan, serta parameter lain yang diperlukan.
Prototype pertama belum tentu langsung menjadi formula akhir.
Sebagai contoh, sebuah moisturizer mungkin menghasilkan tekstur yang terlalu kental. Formulator kemudian dapat melakukan penyesuaian pada sistem emulsi atau komponen lain yang relevan.
Dengan demikian, formulasi kosmetik merupakan proses iteratif. Tim dapat membuat beberapa versi sampai mendapatkan karakter produk yang paling mendekati brief.
Contoh Evaluasi Prototype
Misalnya, sebuah brand ingin mengembangkan facial serum.
Prototype awal dapat dievaluasi berdasarkan:
| Parameter | Target |
|---|---|
| Tekstur | Ringan |
| Warna | Bening–transparan |
| Aroma | Mild |
| Daya sebar | Mudah |
| After-feel | Tidak lengket |
| Kemasan | Dropper/pump |
Parameter aktual tentu perlu disesuaikan dengan formula dan tujuan produk.
4. Evaluasi Karakteristik Formula
Prototype selanjutnya memasuki tahap evaluasi.
Tim dapat memeriksa berbagai karakteristik sesuai jenis produk, seperti:
- warna;
- aroma;
- tekstur;
- homogenitas;
- pH;
- viskositas;
- daya sebar;
- penampilan fisik.
Evaluasi ini membantu mengidentifikasi apakah prototype sudah sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan.
Sebagai contoh, serum yang terlalu lengket mungkin kurang sesuai dengan positioning produk yang mengutamakan lightweight feel. Sebaliknya, body butter yang terlalu cair mungkin tidak memberikan karakter yang diharapkan.
Karena itu, hasil evaluasi dapat menjadi dasar revisi formula berikutnya.
5. Melakukan Revisi Formulasi Kosmetik
Jarang sekali prototype pertama langsung menjadi formula final.
Brand dapat memberikan feedback mengenai tekstur, aroma, warna, sensasi penggunaan, atau karakteristik lain. Selanjutnya, tim formulasi melakukan penyesuaian berdasarkan evaluasi tersebut.
Alurnya dapat terlihat seperti berikut:
Konsep → Formula Awal → Prototype → Evaluasi → Revisi → Sample
Sebagai contoh, brand menginginkan moisturizer yang lebih cepat menyerap. Tim kemudian mengevaluasi komposisi dan membuat prototype berikutnya.
Proses revisi membantu mempertemukan kebutuhan marketing dengan aspek teknis pengembangan produk.
6. Melakukan Uji Stabilitas Kosmetik
Setelah prototype semakin mendekati target, stabilitas menjadi aspek penting yang perlu dievaluasi.
Uji stabilitas kosmetik membantu melihat perubahan karakteristik produk selama kondisi pengujian tertentu. Parameter yang diamati dapat disesuaikan dengan jenis formula dan metode pengujian.
Evaluasi dapat mencakup perubahan:
- warna;
- aroma;
- tekstur;
- pH;
- viskositas;
- homogenitas;
- kondisi fisik produk.
Tahap ini penting karena formula yang terlihat baik setelah pembuatan belum tentu mempertahankan karakter yang sama selama penyimpanan.
Untuk pembahasan lebih lengkap, baca artikel 5 alasan utama uji stabilitas kosmetik wajib dilakukan sebelum dipasarkan.
Selain itu, ASEAN memiliki metode harmonisasi untuk evaluasi perlindungan antimikroba produk kosmetik, termasuk penilaian efektivitas sistem pengawet pada produk.
ASEAN Trade Repository – Cosmetic Standards
7. Membuat Final Sample
Setelah evaluasi dan revisi selesai, tim dapat menyiapkan sample yang mendekati formula yang telah disepakati.
Brand kemudian dapat mengevaluasi kembali:
- tekstur;
- aroma;
- warna;
- kenyamanan penggunaan;
- tampilan produk;
- kompatibilitas konsep dengan kemasan;
- kesesuaian dengan target pasar.
Sample tersebut menjadi referensi penting sebelum pengembangan dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Namun, persetujuan sample bukan berarti seluruh proses produk otomatis selesai. Brand dan produsen masih perlu memperhatikan pengujian, dokumentasi, regulasi, kesiapan produksi, serta persyaratan lain yang relevan.
Dari Formulasi Kosmetik Menuju Produksi
Setelah formulasi kosmetik memperoleh hasil yang sesuai, proses dapat dilanjutkan menuju persiapan produksi.
Tahap berikutnya dapat mencakup finalisasi spesifikasi, pemilihan kemasan, dokumentasi, persiapan legalitas, hingga produksi sesuai kebutuhan.
Di Indonesia, proses produksi kosmetik juga berkaitan dengan penerapan Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB). BPOM menyatakan sertifikat CPKB menjadi bukti bahwa industri kosmetika telah memenuhi persyaratan CPKB dalam pembuatan kosmetika.
BPOM juga telah menerbitkan Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2026 mengenai Sertifikasi Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengembangkan Formula
Salah satu kesalahan umum adalah menentukan formula hanya berdasarkan bahan yang sedang populer.
Tren memang dapat menjadi inspirasi. Namun, formulasi tetap perlu mempertimbangkan fungsi produk, karakter target konsumen, kompatibilitas bahan, regulasi, serta stabilitas.
Kesalahan lainnya adalah terlalu cepat menentukan produksi sebelum sample dievaluasi secara memadai.
Karena itu, brand sebaiknya memiliki brief yang jelas sejak awal dan menyediakan ruang untuk proses evaluasi serta revisi.
Formulasi Kosmetik untuk Brand Baru
Brand baru tidak harus memiliki laboratorium atau tim R&D sendiri untuk mulai mengembangkan produk.
Melalui sistem maklon, pemilik brand dapat mendiskusikan konsep produk dengan perusahaan manufaktur yang menyediakan layanan pengembangan.
Misalnya, Anda memiliki konsep:
“Body lotion untuk pasar premium dengan tekstur ringan, aroma elegan, dan kemasan minimalis.”
Konsep tersebut kemudian dapat diterjemahkan menjadi brief pengembangan. Selanjutnya, tim terkait dapat mengevaluasi pilihan bahan, karakter formula, sample, hingga kebutuhan produksi.
Pendekatan ini memungkinkan pemilik brand lebih fokus pada strategi merek, positioning, pemasaran, dan distribusi.
FAQ tentang Formulasi Kosmetik
Apa yang dimaksud dengan formulasi kosmetik?
Formulasi kosmetik adalah proses merancang komposisi bahan untuk menghasilkan produk kosmetik dengan karakteristik tertentu, seperti tekstur, warna, aroma, pH, fungsi, dan sensasi penggunaan.
Berapa kali revisi formula diperlukan?
Jumlah revisi berbeda pada setiap produk. Formula sederhana mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian, sedangkan konsep yang lebih kompleks dapat memerlukan beberapa prototype sampai karakter produk sesuai dengan target.
Mengapa sample kosmetik perlu dibuat?
Sample membantu brand mengevaluasi produk sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya. Brand dapat menilai tekstur, aroma, warna, sensasi penggunaan, dan kesesuaiannya dengan konsep.
Apakah formula kosmetik perlu diuji stabilitas?
Evaluasi stabilitas penting untuk melihat bagaimana karakteristik formula berubah selama kondisi pengujian tertentu. Anda dapat mempelajari tahap ini lebih lengkap melalui artikel uji stabilitas kosmetik.
Apakah brand baru bisa mengembangkan formula kosmetik?
Bisa. Brand dapat bekerja sama dengan perusahaan manufaktur atau maklon yang menyediakan fasilitas dan dukungan pengembangan produk.
Kembangkan Formulasi Kosmetik untuk Brand Anda
Formulasi kosmetik merupakan proses yang menghubungkan ide produk dengan produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Tahapannya dapat dimulai dari menentukan konsep, memilih bahan, membuat prototype, mengevaluasi karakteristik formula, melakukan revisi, mengevaluasi stabilitas, hingga menghasilkan sample.
Proses yang sistematis membantu brand membangun produk berdasarkan spesifikasi yang lebih jelas. Selain itu, pemilihan mitra manufaktur yang tepat dapat membantu mengintegrasikan pengembangan formula dengan kebutuhan produksi dan regulasi.
PT Anugerah Malik Jabbar menyediakan solusi pengembangan dan manufaktur kosmetik untuk berbagai kebutuhan brand. Pelajari lebih lanjut mengenai layanan maklon kosmetik PT Anugerah Malik Jabbar atau hubungi tim AMJ untuk mendiskusikan konsep produk yang ingin Anda kembangkan.